Kartini & Emansipasi

Sebelumnya, selamat Hari Kartini untuk seluruh perempuan di Indonesia. Semoga semangat yang telah Ia kibarkan, mampu membuat Perempuan Indonesia untuk lebih bangkit🙂

Seperti biasa, bukan bubba kalo mau ngomong walau tidak ada faktanya :p

Secara singkat tentang R.A. Kartini, pahlawan nasional Indonesia yang menjadi pelopor atas kesetaraan wanita. Beliau lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879 (kalau masih hidup, sudah berumur 133 tahun). Lahir dari kaum bangsawan yang masih memegang teguh adat istiadat. Kartini sejak kecil sudah suka dengan membaca. Dan Ia tertarik dengan koran0koran dan majalah-majalah dari eropa. Kartini juga rajin mengirim surat kepada teman-temannya di Eropa mengenai kondisi sosial saat itu. Dan dari situlah, Kartini mulai membuka pikirannya untuk memajukan wanita di Indonesia.

Singkat cerita lagi, suami Kartini yang paham akan hal itu, mendukung keinginan Kartini untuk membangun sebuah sekolah untuk wanita yang setelah selesai diberi nama Kartini School. Kartini wafat pada 17 September 1904. Setelah Kartini wafat, kumpulan surat yang telah Ia kirim kepada teman-temannya di Eropa, diterjemahkan dan dibukukan dalam sebuah buku berjudul, Habis Gelap Terbitlah Terang.

Menyoal Emansipasi Wanita yang diperjuangkan kartini adalah tentang kesetaraan wanita. Dimana, baginya adat jawa adalah sebuah halangan bagi kaum wanita untuk maju. namun, seiring waktu, kartini makin toleran terhadap adat istiadat jawa. BUkan hanya emansipasi yang Ia perjuangkan, Kartini juga tapi menyoal tentang masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.

Dan inilah yang saya tidak pahami tentang konsep emansipasi. Ketika membahas emansipasi, banyak yang mengatakan tentang kesetaraan. Lelaki bisa panco wanita juga bisa. Lelaki bisa jadi Bos, wanita juga bisa. Bahkan saking setaranya, sampai banyak para istri yang menggugat cerai suaminya. Dan setelah mendapat pencerahan tersebut, muncullah pencerahan lagi. Saya dapat dari salah seorang mentor saya di SKI (ekstrakulikuler agama islam saya lupa kepanjangannya). Inilah pencerahan yang saya tunggu. Beliau mengatakan, bahwa emansipasi memang masih seputar kesetaraan wanita namun tetap sebagai kodratnya sebagai seorang perempuan. Seperti contoh, jika Ia seorang Ibu, boleh kuliah, boleh menjadi Bussineswoman, asal kembali pada kodratnya sebagai seorang Ibu, yaitu mengasuh anaknya agar kelak bisa berhasil. Melayani suaminya lahir dan batin agar tonggak rumah tangga tetap utuh. Itulah uniknya seorang wanita. Kalau saya ditanya, apakah saya sudah mendapat “emansipasi”, sepertinya saya maish belum. Masak saja saya belum bisa :p. Tapi yang pasti, dengan kondisi saya sekarang sebagai seorang anak, istri, adik dan tante dari keluarga saya, saya akan mencoba memberikan yang terbaik. Semuanya butuh proses, seperti seorang Kartini dalam memperjuangkan hak-hak wanita🙂

~Perlu ditambahkan, semua yang saya tulis hanya opini, tidak ada korespondensi, hanya berdasarkan pengalaman kehidupan sehari-hari. Jadi, kalau ada yang merasa tersinggung, mohon dimaafkan🙂

Dan intinya, mari kita teruskan perjuangan kartini, menjadi Wanita yang mampu memberi pengaruh pada dunia, namun tetap menjadi nomer satu dalam keluarga🙂

-Bubba

Source profile & images : wikipedia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s